Mengenal Apa itu Kemaliq
Karya : Ajeng Putih Imani
Perkenalkan nama ku Ajeng, dan orang-orang memanggilku dengan panggilan Ajeng, Aku adalah seorang pelajar yang merantau ke kota seberang. Selain menuntut ilmu aku juga sangat senang akan hal-hal yang berbau seni atau budaya yang tidak kita jumpai di daerah lain, mungkin di daerah lain ada keunikan dari budayanya tapi setiap daerah tidak sama.
Mataram, adalah tempat pilihanku di sana aku memutuskan untuk kuliah dan memulai semuanya dengan sendiri. Awal yang cukup menarik berada di kota orang dengan menjalani kehidupan sendiri di kos dengan kehidupan yang biasanya selalu ada atau minta ke orang tua sekarang aku harus melakukannya sendiri mulai dari memasak, pergi belanja, bahkan ke kampuspun sendiri.
Kehidupan kuliah memang sangat berbeda dengan sekolah biasanya yang aku jalani ketika SMP maupun SMA, tidak seperti yang aku bayangkan namun menjalani itu semua membuatku mengerti secara perlahan seperti inilah kehidupan perkuliahan. Kemudian hal yang paling aku suka dalam perkuliahan khususnya di daerah Mataram di pulau lombok ini, ketika ada ketika ada event atau kegiatan seperti diest natalis, pertunjukan seni, atau bahkan acara besar di kampus pasti ada pertunjukan adat khas dari sasak yang mana 2 orang laki-laki yang bertarung yang sering di sebut “ peresean “ yang memiliki pengertian bahwa pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras (perisai disebut ende). Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam Peresean biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar.
Peresean merupakan tradisi suku Sasak pertama yang membuatku penasaran dengan suku Sasak yang selalu di pertunjukan dalam setiap acara-acara. Kemudian aku juga memiliki keinginan untuk mengelilingi pulau Lombok karena pesona keindahan alamnya.
Suatu ketika aku diajak oleh teman-teman untuk jalan-jalan mengelilingi Lombok, tapi tidak semua tempat di Lombok sih, lebih tepatnya Aku diajak berkeliling di daerah Lombok Barat di sekitaran Narmada, disana tempatnya adem, dingin dan sepanjang jalan banyak sekali aku menjumpai kebun-kebun ada kebun rambutan, durian, bermacam-macam dan Aku juga melihat bangunan-bangunan tua seperti "pura", Sepanjang jalan aku banyak sekali bertanya pada teman-teman ku.
“Wahhh, Lombok sangat indah yah. Apa kalian sudah pernah pergi ke semua tempat wisata di sini? Kalian kan asli Lombok”. tanya Aku.
“Lombok ini sangat luas kami pun yang asli Lombok saja tidak pernah jalan-jalan ke setiap tempat wisata di pulau Lombok ini, yah paling pergi wisata yang dekat-dekat saja”, jawab temanku.
“Ohh begitu.. disini banyak sekali Pura yah” Tanya Aku
“Iyaalah, kan di sini masyarakat banyak juga yang bukan agama islam”, jawab temanku.
“Berarti sudah tidak heran lagi yah, disini banyak pura”, ujar ku.
Kemudian ketika kami melewati jalan di daerah Ranget Kecamatan Narmada ada tempat atau bangunan yang di namakan “ Kemaliq “ yang sering disebut Kemaliq Ranget.
“Kemaliq itu apa? Aku baru mendengar kata Kemaliq”. Tanya ku.
“Kemalq itu diketahui sebagai tempat yang sakral peninggalan leluhur nenek moyang dari suku sasak ini”, jawab teman ku
Awalnya aku berpikir bahwa Kemaliq ini adalah tempat beribadah masyarakat “selain islam” yang biasa disebut juga sebagai Pura, lalu aku bertanya-tanya lebih dalam mengenai Kemaliq ini kepada teman ku dan ketika teman ku menjelaskan panjang lebar mengenai sejarah Kemaliq dan aku mencari tahu juga pada teman-teman ku yang lain dan mempelajari mengenai sejarahnya, ternyata Kemali ini sangat berbeda dengan pemahaman yang aku pikirkan sebelumnya ternyata sejarah yang mengetahui betul tentang Kemaliq ini mengatakan bahwa warganya tidak ada yang beragama selain Islam. Persoalan pura Ranget menurutnya, merupakan konflik berkepanjangan antara masyarakat setempat sebagai pemilik dengan masyarakat pendatang yang mengaku memiliki sebidang tanah di seputaran kemaliq. Padahal masyarakat setempat dan para ahli waris tidak pernah menjual tanahnya, tapi anehnya mereka sudah memiliki sertifikat tanah. Anehnya lagi, tanah tersebut juga dimiliki oleh sebuah perusahaan air minum daerah.
Sejarah mengenai Kemaliq ini sangat menarik setelah aku mengetahui cerita sejarahnya, aku memang bukan anak keturunan atau asli darah sasak tapi aku sangat senang mempelajari budaya-budaya sasak seperti sejarah Kemaiq ini. Untuk itu, semoga para generasi penerus orang Sasak, mulai menghargai dan melestarikan budaya ini, karena di pundak generasi peneruslah tanggung jawab itu. Jangan sampai warisan leluhur ini dikuasai oleh orang lain, karena keberadaan suatu budaya akan ada atau akan punah tergantung bagaimana masyarakat melestarikanya.
Keren, sngat bermanfaat😊
BalasHapusCeritanya sangat menarik, lanjutkan terus.👍
BalasHapuskereen nih😍
BalasHapusMantap👍
BalasHapusmantap, kembangkan dalam menulis
BalasHapusMantap, semangat menulis💪
BalasHapusKeren 👍🏻
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusKeren
BalasHapusMantapp
BalasHapusMenarikkkkkk sekaliiiiii..
BalasHapusMenarik dann nambah wawasan 👍
BalasHapusCerpennya menarik ❤️
BalasHapusCerpen yang baguss
BalasHapusWahh cerpennya sangat menarik🥰
BalasHapusBermanfaat bgt
BalasHapus